Angaran Penelitian Rp 240 M Per Tahun

Pendaftar Tahun 2020 Mencapai 2.957 Judul

Sejak 2016, setiap tahun Kementerian Agama RI mengalokasikan anggaran lebih dari Rp200 miliar untuk penelitian Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) secara nasional. Anggaran ini sangat kecil jika dibandingkan dengan Kementerian lain yang menangani perguruan tinggi. Namun, diharapkan hasil penelitian mampu berkontribusi bagi pengembangan dunia akademik.

Demikian kata Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Ditjen Pendidikan Islam Arskal Salim GP saat membuka Biannual Conference On Research Result (BCRR) di Kampus UIN SGD Bandung, Selasa (03/11/2019). BCRR merupakan even penilaian dan penganugerahan penelitian terbaik, bekerjasama dangan UIN Bandung. BCRR diikuti oleh 64 peneliti terpilih dari ribuan hasil riset yang didaftarkan.

Menurut Arskal, setiap tahun riset PTKI mendapatkan alokasi sekurang-kurangnya 30 persen dari anggaran BOPTN (Biaya Operasional Perguruan Tinggi Negeri). “Anggaran BOPTN itu berkisar Rp800 miliar. Berarti, sekitar Rp240 miliar dialokasikan untuk  penelitian seluruh perguruan tinggi keagamaan Islam secara nasional,” jelas Arskal.

Ditjen Pendidikan Islam (Pendis) Kementerian Agama terus mengembangkan kualitas penelitian di PTKI. Salah satu caranya menentukan hasil riset terbaik di tingkat nasional sekaligus untuk melakukan akuntabilitas secara akademik atas penggunaan anggaran riset serta mengukur kontribusi riset, baik dalam dunia akademik, pengembangan sosial kemasyarakatan, maupun dunia industri.

Dalam dua tahun terakhir ini, kata  Arskal,  terjadi peningkatan kuantitas riset PTKI. “Terjadi lompatan besar atas jumlah pendaftar riset. Tahun 2018 terdapat 1.208 pendaftar, lalu meningkat menjadi 2.321 pada 2019, dan 2.957 untuk pendaftar tahun 2020,” kata Arskal,  seraya menjelaskan bahwa secara kualitas Kemenag sudah memiliki Agenda Riset Keagamaan Nasional (ARKAN) yang menjadi basis desain dan arah riset selama 10 tahun ke depan (2028).

Guna meningkatkan kualitas, ia berpesan kepada para peneliti agar terus meningkatkan empat komptensi: kemampuan membaca, cerdas mengungkapkan ide ke dalam tulisan, meningkatkan daya analisis melalui metodologi yang tepat, dan kemampuan mengkomunikasikan hasil riset melalui berbagai konferensi.

“Melalui portal moraref, Diktis telah menghimpun 1.602 jurnal dengan 47.722 artikel hasil riset. Diktis juga menyelenggarakan Program Penerbitan 5.000 buku yang bekerjasama dengan IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) dan sejumlah penerbit di tanah air,” ujarnya.

Rektor UIN SGD Bandung Prof Dr H Mahmud mengharapkan penilaian penelitian dalam BCRR 2019 ini dilakukan secara objektif. “Kendatipun UIN Bandung menjadi juara umum, tetapi dari hasil penilaian objektif, agar terhindar dari kesan bahwa tuan rumah selalu menjadi juara umum,” harap Rektor.

Menurut Rektor, ada lima dosen UIN SGD Bandung yang masuk nomine peneliti terbaik, yaitu: Ahmad Ali Nurdin, Ph.D; Irma Riyani, Ph.D; Dr Asti Meiza, M.Si; Dr Hasniah Aliah, M.Si, Mada Sanjaya WS, Ph.D. “Mudah-mudahan dengan penilain seobjektif mungkin, dari kampus tercinta ini ada yang menjadi peneliti terbaik pada ajang Biannual Conference on Research Result,” pungkasnya.

Jika mengacu kepada Rencana Induk Pengembangan (RIP) UIN Sunan Gunung Djati Bandung dalam bidang riset, ada delapan upaya meningatkan kualitas perguruan tinggi: Pertama, peningkatan kuantitas produk hasil penelitian, meliputi: jurnal internasional terakreditasi dan terindeks internasional, proceeding internasional terakreditasi dan terindeks, Jurnal nasional terakreditasi, buku ber-ISBN, HKI, dan Paten, yang mampu bersaing di tingkat nasional. Kedua, peningkatan alokasi anggaran penelitian setiap tahun. Sumber dana diperoleh baik dana pusat (APBN) maupun dan institusi, serta mengembangkan peluang pendanaan pihak ketiga baik negeri maupun swasta.

Ketiga, penguatan dan peningkatan kualitas hasil penelitian yang dapat berkontribusi langsung baik secara teoretis, maupun penerapannya berskala daerah dan nasional; Keempat, penguatan dan pengembangan kolaborasi penelitian minimal antar di dalam negeri yang mendukung visi dan misi institusi berskala daerah dan nasional;

Kelima, penguatan dan pengembangan SDM yang memiliki kemampuan dalam penelitian, penulisan, reviewer, dan penerbitan berskala nasional; Keenam, penguatan dan peningkatan kerjasama penelitian dengan pihak ketiga, dengan prioritas kelompok masyarakat dan pemerintahan daerah.

Ketujuh, peningkatan pelaksanaan seminar dan konferensi nasional dan internasional, yang diselenggarakan minimal 20% jurusan/prodi; Kedelapan, penguatan dan pengembangan pusat penerbitan institusi dan mampu menghasilkan produk bersekala nasional.[nanang sungkawa]

Related Posts