Bahasa Indonesia ID العربية AR English EN
Download | Arsip Data | Arsip Berita
Login Layanan Akademik

Bagi Prodi HTN, Tuntutan Outcome Sangat Seksi

Lima Strategi Dilakukan dalam Jangka Pendek

MENEMUKENALI adalah kosa kata yang sering dijumpai dalam literasi Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME) yang dilakukan oleh BAN-PT. Terlebih, dalam merumuskan analisis  SWOT di dalam LED, perguruan tinggi digiring untuk menemukan dan mengenali kekuatan dan kelemahan yang akan menjadi dasar atas solusi kebijakan yang akan diambil dalam meningkatakan kualitas program studi, sesuai dengan naskah akademik keilmuan yang sejak awal telah ditetapkan oleh perguruan tinggi.

Demikian menurut Ketua Program Studi Hukum Tata Negara (HTN/Siyasah) Faklutas Syariah dan Hukum UIN SGD Bandung, Dr H Chaerul Shaleh, M.Ag, dalam “Pengembangan Jurusan HTN: Penguatan Outcome Mahasiswa”, di Aula FSH, Rabu (04/03/2020).

“Indikator standar kualitas pengelolaan akademik yang ditetapkan di SNPT, SNPTKIN, dan SN-PT setempat, diturunkan BAN-PT menjadi  instrumen penilain 4.0 untuk prodi dan 3.0 untuk PT, yang bermuara pada produk yang dihasilkan dari  alur kinerja yang dilaksanakan,” ujar Dr Chaerul, didampingi Sekretaris Ridwan Eko Prasetyo, SH.I, MH dan staf Lutfi Fahrul Rizal, S.Sy, MH.  

Secara substansi Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME)  yang dilakukan oleh BAN-PT dilakukan dengan mempergunakan paradigma Outcome-Output-dan Proses, sehingga dapat dipastikan bahwa seluruh produk akademik merupakan bagian dari proses kebijakan yang terukur, terarah, dan terencana  dalam satu sistem akademik.

Bagi Dr Chaerul, tuntutan outcome bagi Prodi HTN merupakan tantangan yang sangat “seksi”, sehingga tidak memberi ruang untuk diam diri dan maratapi tuntutan, yang tersisa hanya ruang gerak yang harus terus bergerak agar tidak tertingal atau ter-cancel, diakibatkan SPME yang dilakukan oleh BAN-PT, yang diambil secara langsung dari PD-DIKTI atau adanya laporan masyarakat.

Tuntutan outcome generasi 4.0 dengan model Outcome-Output- dan Proses tidak hanya diarahkan kepada dosen, tetapi juga dibebankan kepada seluruh aktivitas akademik mahasiswa (pendidikan, penelitian, dan pengabdian). Itu harus berakhir pada bukti produk, mulai dari produk harian hasil pengajaran, produk pengabdian dalam bentuk rekognisi, dan produk penelitian dalam bentuk hasil karya ilmiah yang terhubung dengan jurnal yang dibuat mahasiswa atau mahasiswa dan dosen.

Menurut Dr Chaerul, skema ikhtiar jangka pendek yang dapat dilakukan Prodi HTN dalam memenuhi  tuntutan outcome, dilakukan melalui mekanisme: pertama, Kompetensi keahlian mahasiswa harus dibuktikan dengan  kepemilikan sertifikat kompetensi pihak ketiga, untuk memenuhi tuntutan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI); kedua, Hasil penelitian mahasiswa (skripsi) dibuatkan executive summary untuk dinilai kelayakannya untuk mendapatkan HAKI.

Ketiga, Hasil  penelitian mahasiswa dibuatkan dalam format jurnal untuk dinilai kelayakan penerbitan dalam jurnal lokal dan nasional; keempat, Laporan praktikum dibuatkan dalam bentuk laporan akademik yang memiliki tingkat kesuaian dengan kompetensi mahasiswa; dan kelima, Pengabdian dalam bentuk KKN di orientasikan pada model pengabdian kompetensi prodi yang memiliki dimensi akademik dan pengabdian kepada masyarakat.[nanang sungkawa]