Perjalanan Panjang Menuju Keunggulan
Dari sebuah gagasan sederhana untuk mencetak pemimpin Muslim yang berintegritas, hingga menjadi fakultas dengan akreditasi internasional—perjalanan FSH adalah kisah tentang perjuangan, dedikasi, dan komitmen pada kualitas pendidikan Islam.
Awal Mula: Mimpi Mendirikan Pendidikan Tinggi Islam
Sejarah FSH tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang perjuangan umat Islam Indonesia untuk memiliki lembaga pendidikan tinggi. Jauh sebelum Indonesia merdeka, tokoh-tokoh Muslim seperti Dr. Saliman Wirjosandjojo sudah bermimpi mendirikan pesantren sebagai lembaga pendidikan tinggi agama. Sayangnya, cita-cita ini terhambat oleh penjajahan Belanda yang melarang umat Islam mengembangkan pendidikan tinggi.
Perjuangan berlanjut di masa pendudukan Jepang, hingga akhirnya pada 8 Juli 1945—tepat sebulan sebelum Indonesia merdeka—berdiri Sekolah Tinggi Islam (STI) di Bandung. Ini adalah cikal bakal pendidikan tinggi Islam di Indonesia, dipimpin oleh tokoh sekaliber Abdul Kahar Mudzakkir dan didukung oleh Muhammad Hatta, K.H. Mas Mansur, dan K.H. Fathurrahman Kafrawi.
1950-1960: Dari PTAIN hingga ADIA
Pada 26 September 1950, Fakultas Agama UII (Universitas Islam Indonesia) di Yogyakarta berubah status menjadi Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN)—perguruan tinggi Islam negeri pertama di Indonesia. PTAIN memiliki 3 program studi: Tarbiyah, Qadla (Peradilan), dan Dakwah.
Sementara itu, di Bandung, pada 1 Juni 1957, berdiri Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA)—lembaga yang secara khusus mendidik pegawai negeri untuk menjadi guru agama Islam. ADIA inilah yang kelak menjadi cikal bakal langsung UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
ADIA dipimpin oleh Prof. Dr. H. Mahmud Yunus sebagai Dekan dan Prof. H. Bustami A. Gani sebagai Wakil Dekan—dua tokoh pendidikan Islam terkemuka di zamannya.
ADIA dipimpin oleh Prof. Dr. H. Mahmud Yunus sebagai Dekan dan Prof. H. Bustami A. Gani sebagai Wakil Dekan—dua tokoh pendidikan Islam terkemuka di zamannya.
1960-1968: Lahirnya IAIN dan Fakultas Syariah
Pada 24 Agustus 1960, terjadi peristiwa bersejarah: PTAIN di Yogyakarta dan ADIA di Bandung digabung menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN). Dari penggabungan ini lahirlah:
- IAIN Yogyakarta dengan Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Syariah
- IAIN Bandung dengan Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Adab
Namun perjalanan masih panjang. Hingga akhirnya pada 8 April 1968, berdirilah IAIN Sunan Gunung Djati Bandung sebagai institut mandiri, dengan 4 fakultas awal:
- Fakultas Syariah âś… (inilah cikal bakal FSH!)
- Fakultas Tarbiyah
- Fakultas Ushuluddin
- Fakultas Tarbiyah Garut
Fakultas Syariah adalah salah satu fakultas pertama yang didirikan—bahkan lebih tua dari banyak fakultas lain di kampus ini.
1968-2005: Era IAIN—Pertumbuhan dan Ekspansi
Selama era IAIN (1968-2005), Fakultas Syariah berkembang pesat. Beberapa milestone penting:
📍 1970 — Fakultas Tarbiyah Bogor dan Fakultas Syariah Sukabumi yang awalnya di bawah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, digabung ke IAIN Sunan Gunung Djati Bandung.
📍 1973 — IAIN Sunan Gunung Djati pindah ke Jalan Tangkuban Perahu No. 14, Bandung.
📍 1974 — Pindah lagi ke Jalan Cibiru (sekarang Jalan A.H. Nasution No. 105)—lokasi yang masih kami tempati hingga sekarang.
📍 1976 — Fakultas Tarbiyah Cirebon yang awalnya berafiliasi dengan IAIN Jakarta, resmi menginduk ke IAIN Bandung.
📍 1993 — Dua fakultas baru dibuka: Fakultas Dakwah dan Fakultas Adab, memperluas cakupan keilmuan IAIN Bandung.
📍 1997 — Fakultas Syariah membuka Program Pascasarjana, menandai era baru dalam pengembangan riset dan pendidikan tingkat magister.
Selama periode ini, Fakultas Syariah tidak hanya fokus pada pengembangan akademik, tapi juga membangun jaringan dengan lembaga-lembaga peradilan dan hukum di Indonesia. Banyak alumni Fakultas Syariah yang kemudian menjadi hakim Pengadilan Agama dan pejabat di Kementerian Agama.
2005: Transformasi Menjadi UIN dan FSH
10 Oktober 2005 adalah tanggal yang sangat bersejarah. Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 2005, IAIN Sunan Gunung Djati Bandung resmi berubah status menjadi UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Gunung Djati Bandung.
Perubahan ini bukan sekadar ganti nama. Ini adalah transformasi fundamental—dari institut yang hanya fokus pada ilmu-ilmu keislaman, menjadi universitas yang membuka fakultas umum seperti Sains dan Teknologi, Psikologi, Ilmu Sosial dan Politik, hingga Ekonomi dan Bisnis Islam.
Bagi Fakultas Syariah, transformasi ini membawa perubahan nama menjadi Fakultas Syariah dan Hukum (FSH)—mencerminkan perluasan fokus dari hukum Islam saja, menjadi integrasi antara syariah dan ilmu hukum modern.
Pada tahun yang sama, FSH memiliki 6 program studi:
- Hukum Keluarga Islam (Al-Ahwal Al-Syakhsiyah)
- Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah)
- Hukum Pidana Islam (Jinayah)
- Hukum Ketatanegaraan Islam (Siyasah)
- Perbandingan Mazhab dan Hukum (PMH)
- Ilmu Hukum (IH)—program studi baru yang fokus pada hukum positif dengan perspektif Islam
2005-2020: Era Akreditasi dan Pengakuan
Pasca menjadi UIN, FSH fokus pada peningkatan kualitas. Hasilnya:
📍 2009 — Program Diploma 3 Manajemen Keuangan Syariah (MKS) dibuka untuk merespon kebutuhan SDM di industri keuangan syariah yang sedang booming.
📍 2012 — Program D3 MKS ditingkatkan menjadi Program S1 Manajemen Keuangan Syariah, menandai komitmen FSH untuk terus berkembang.
📍 2015-2020 — Satu per satu, semua program studi FSH meraih Akreditasi A (Unggul) dari BAN-PT. Ini adalah pencapaian luar biasa—tidak banyak fakultas di Indonesia yang seluruh prodinya terakreditasi Unggul.
📍 2018 — Program Studi Perbandingan Mazhab dan Hukum meraih sertifikasi AUN-QA (ASEAN University Network Quality Assurance)—sertifikasi internasional yang setara dengan standar universitas top di ASEAN seperti NUS (Singapura), Chulalongkorn (Thailand), dan University of Malaya.
2020-Sekarang: Menuju Visi 2029
Kini, di tahun 2025, FSH terus berbenah. Beberapa pencapaian terbaru:
✅ Seluruh 6 prodi tetap terakreditasi Unggul—standar tertinggi dari BAN-PT ✅ Kerjasama internasional diperluas—dengan universitas di Malaysia, Thailand, Brunei, dan Turki ✅ Publikasi penelitian meningkat—dosen dan mahasiswa aktif menerbitkan di jurnal Scopus dan Sinta ✅ Fasilitas terus diperbarui—dari ruang kuliah, perpustakaan digital, hingga lab moot court ✅ Kurikulum berbasis MBKM—mahasiswa bisa magang, pertukaran pelajar, dan proyek independen
Visi 2029 bukan sekadar target—tapi panggilan. Kami ingin FSH dikenal sebagai pusat keunggulan studi syariah dan hukum di Asia Tenggara. Dan dengan sejarah panjang perjuangan sejak 1945, pengalaman 57 tahun sejak 1968, serta komitmen pada kualitas—kami yakin visi ini akan tercapai.
Kepemimpinan FSH dari Masa ke Masa
Dari sebuah gagasan sederhana untuk mencetak pemimpin Muslim yang berintegritas, hingga menjadi fakultas dengan akreditasi internasional—perjalanan FSH adalah kisah tentang perjuangan, dedikasi, dan komitmen pada kualitas pendidikan Islam.
Sejak berdiri hingga sekarang, FSH telah dipimpin oleh para dekan yang luar biasa. Setiap periode kepemimpinan membawa warna dan kontribusi masing-masing dalam membangun FSH menjadi seperti sekarang.
Dekan saat ini, Prof. Dr. H. Fauzan Ali Rasyid, M.Si, adalah pemimpin yang visioner dan berkomitmen membawa FSH menuju akreditasi internasional dan pengakuan regional.
🎯 Tahukah Kamu?
📜 FSH adalah salah satu dari 4 fakultas pertama yang berdiri di UIN Sunan Gunung Djati Bandung—artinya usianya sama tuanya dengan kampus ini!🏆 Dari gedung sederhana di Lengkong Kecil tahun 1968, kini FSH menempati kompleks modern di Cibiru dengan fasilitas mumpuni.
👨‍⚖️ Banyak hakim senior Pengadilan Agama adalah alumni FSH generasi awal (1970-1980an)—mereka adalah saksi hidup perjuangan membangun fakultas ini.
🌍 Sertifikasi AUN-QA yang diraih Prodi PMH tahun 2018 adalah bukti bahwa mimpi "Asia Tenggara" bukan isapan jempol—kami sudah mulai diakui di tingkat regional!

Penutup
Dari 1945 hingga 2025—80 tahun perjuangan. Dari gedung sederhana di Lengkong Kecil hingga kampus modern di Cibiru. Dari beberapa puluh mahasiswa hingga ribuan alumni tersebar di seluruh Indonesia. FSH adalah bukti bahwa mimpi besar, kerja keras, dan komitmen pada kualitas—akan menghasilkan keunggulan.
Dan perjalanan kami belum selesai. Dengan kamu sebagai mahasiswa FSH, sejarah baru akan tertulis.
Mari bersama menulis bab berikutnya dalam sejarah keemasan FSH.
